Selasa, 23 Mei 2017
Halaman Utama Berita Agenda Kontak Kami Buku Tamu Ke Domain Utama English Version
Tujuan Wisata
Satuan Kawasan Wisata
Peta Wisata
Objek Wisata
Usaha Wisata
Hotel
Restoran
Bumi Perkemahan
Hiburan Umum & Wisata Belanja
Jasa Wisata
Aneka Dokumen
Rekapitulasi
Kunjungan Wisata
PAD Parsenibud
Seni Budaya
Seni Tradisional
Temuan Arkeologi
Bangunan Bersejarah
Cagar Budaya
Benda Pusaka
Upacara Adat
Pemukiman Tradisional
Naskah Kuno
Cerita Rakyat
Permainan Rakyat
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah
Organisasi Parsenibud
Disparbud
Organisasi Pariwisata
Organisasi Seni Budaya
Rupa - Rupa
Even
Agenda
Berita
Buku Tamu
 
Direktori
Peta Kota Garut
Peta Kecamatan
Produk Khas
Makanan Khas
Cindera Mata
 
Upacara_Adat - Upacara 12 Mulud
(dibaca : 16893 kali)
perbesar...
Kecamatan : Cikelet
 
1.Tanggal 11 Maulud tamu-tamu yang mau ikut upacara 12 Maulud dari luar Kampung Dukuh sudah datang ke Kampung Dukuh, sambil membawa peralatan yang mau di muludkan.

2.Pada sorenya tanggal 11 Maulud tamu-tamu dan masyarakat Kampung Dukuh melaksanakan ?Manaja? ke Kuncen sesudah Sholat Ashar. ?Manaja? ialah menyampaikan maksud ka Kuncen sambil mempersilahkan makan berupa bebawaan seperti : beras, kelapa, mie, telor, dan lain-lain semampunya.

3.Bebawaan manaja itu dikumpulkan di rumah Kuncen, seterusnya di masak oleh istri Kuncen yang di bantu oleh istri-istri masyarakat Kampung Dukuh, juga ada lelaki yang membantu membuat kontrang dan kojong, yaitu barang tempat menyimpan makanan untuk ke masjid.

4.Upacara 12 Mulud di Kampung Dukuh merupakan upacara besar yang disebut Lebaran Mulud, lebih besar dari lebaran Idul Fitri atau Idul Adha.

5.Sesudah Sholat Isya diadakan kegiata terebang senjak, yaitu merupakan kesenian asli Kampung Dukuh yang dilaksanakan di dalam Masjid Jami sampai waktu subuh.

6.Dari kegiatan terebang ini, selain memainkan terebang senjak juga di barengi oleh membaca Sholawat Nabi.

7.Pagi-pagi tanggal 12 Mulud, kurang lebih jam 7.00 sesudah ada isyarat panggilan berupa suara bedug yang di dengungkan di Masjid Jami, semua lelaki masyarakat Kampung Dukuh juga para tamu lelaki masuk ke Masjid Jami sambil bawa alat-alat yang ditaruh di tempatnya masing-masing, selain dari barang-barang pusaka juga bawa padi yang biasanya dibuat dari kukuk (tempat yang dibuat dari sejenis buah-buahan yang dikeringkan). Bebawaan tadi seperti barang pusaka, padi, air, ada juga yang bawa minyak wangi untuk membersihkan benda pusaka tersebut masing-masing disatukan dalam satu tempat, ada yang pakai tampah, ada juga yang pakai baskom. Semua bebawaan yang masuk ke Masjid, disimpan ditengah-tengah Masjid yang bawanya pada duduk disisi Masjid dibelakang bebawaan tadi.

8.Acara manakiban yaitu merupakan kegiatan marhabaan dengan baca Sholawat.
a. Disiapkan nasi sebakul yang dibawa dari rumah Kuncen, nasi ini disebut cangkararuk (sisa nasi yang sudah basi) Mulud.
b. Semua peralatan pusaka dibuka dari tempatnya di taruh di tampah tadi.
c. Nasi yang ada di bakul dikelilingkan ke salah seorang yang ditugaskan oleh Kuncen ke semua yang ada di dalam Masjid.
d. Semua yang ada di dalam Masjid tadi, mengambil nasi yang ada di bakul sambil terus dipegang
e. Kuncen atau Wakil Kuncen mulai memimpin do?a pada acara manakiban ini. Di tengah-tengah Kuncen berdo?a, sesudah terdengar ucapan ?Kobulan?, semua yang memegang nasi tadi serempak mengepalkan nasi tersebut lalu dimasukkan ketempat yang disatukan dengan peralatan, padi dan air yang tadi.
f. Sesudah selesai Kuncen berdo?a, masing-masing peralatan dibersihkan oleh yang punya, ada yang di air lalu dikeringkan, ada juga yang di minyak wangi.
g. Sewaktu membersihkan peralatan, petugas Kuncen membawa makanan dari rumah Kuncen ke Masjid, yang sudah ditempatkan dikontrang dan kojong.
-Kontrang tempat makanan kecil berupa opak, lontong, rengginang, bugis, pisang dan lain-lain.
-Sedangkan kojong tempat nasi dan lauk pauknya.

h.Sesudah membersihkan peralatan pusaka semua yang ada di dalam Masjid dibagi makanan, masing-masing diberi kontrang satu dan kojong satu.
Makanan ini, ada yang dimakan di Masjid, ada juga yang dibawa ke rumahnya dimakan bareng keluarga. Tempat tampah tadi dibawa lagi ke masing-masing rumahnya, nasi yang dikepalkan sampai keras itu dimasukkan ke pendaringan (tempat beras) masing-masing.

Tamu yang dari jauh ada yang belum pulang ke kampungnya, karena ingin mengikuti acara upacara adat 14 Mulud.

Kontributor: H. Daud Mokhamad Komar
 Ke halaman sebelumnya

Best view with
Microsoft
Internet Explorer at
1024 by 768 pixels