Selasa, 23 Mei 2017
Halaman Utama Berita Agenda Kontak Kami Buku Tamu Ke Domain Utama English Version
Tujuan Wisata
Satuan Kawasan Wisata
Peta Wisata
Objek Wisata
Usaha Wisata
Hotel
Restoran
Bumi Perkemahan
Hiburan Umum & Wisata Belanja
Jasa Wisata
Aneka Dokumen
Rekapitulasi
Kunjungan Wisata
PAD Parsenibud
Seni Budaya
Seni Tradisional
Temuan Arkeologi
Bangunan Bersejarah
Cagar Budaya
Benda Pusaka
Upacara Adat
Pemukiman Tradisional
Naskah Kuno
Cerita Rakyat
Permainan Rakyat
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah
Organisasi Parsenibud
Disparbud
Organisasi Pariwisata
Organisasi Seni Budaya
Rupa - Rupa
Even
Agenda
Berita
Buku Tamu
 
Direktori
Peta Kota Garut
Peta Kecamatan
Produk Khas
Makanan Khas
Cindera Mata
 
Tokoh_Sejarah - Anwar Musaddad
(dibaca : 17588 kali)
Nama Musaddadiyah sudah tidak asing lagi di Garut, sebab Musaddadiyah merupakan salah satu nama lembaga pendidikan di kota Garut yang terbilang besar serta dikenal oleh masyarakat. Tepatnya di Jaya Raga, Tarogong. Nama lengkapnya Yayasan Pendidikan Al-Musaddiyah Garut, yang membuka lembaga pendidikan dari taman kanak-kanak sampai ke perguruan tinggi.

Pesantren itu didirikan oleh Anwar Musaddad beserta dengan keluarganya. Sewaktu masih kecil Anwar Musaddad dikenal dengan Dede Masdiad. Lahir di Garut tanggal 3 April 1910. Ketika berumur empat tahun sudah yatim, serta diasuh oleh ibu dan neneknya yang waktu itu mengelola usaha Batik Garut dan Dodol Kuraetin.

Dikarenakan bukan merupakan anak keturunan ningrat, Dede harus sekolah di HIS Kristen dan melanjutkan ke MULO Kristen di Sukabumi. Ketika di Sukabumi Dede sempat belajar agama Islam kepada Ustad Sahroni.. Sesudah tamat dari MULO Dede melanjutkan ke AMS Kristen di Jakarta.

Baru dua tahun di AMS, beliau disuruh pulang ke Garut oleh keluarganya, sebab diberitakan sering keluar masuk ke Gereja. Oleh keluarganya beliau dimasukan pesantren di Cipari yang waktu itu dipimpin oleh Kyai Harmaen. Ketika itu pula Dede berganti nama menjadi Anwar Musaddad. Beliau lalu mempelajari bahasa Arab serta pindah ke Jakarta. Waktu di Jakarta, beliau menumpang tinggal di rumah H.O.S Cokroaminoto, salah seorang tokoh Serikat Islam (SI).

Tahun 1930, beliau berangkat ke Mekah menyertai ibu dan neneknya ibadah haji. Akan tetapi beliau lalu sekolah di Madrasah Al-Falah, sampai mengajar di tempat itu. Di Mekah Anwar menikah dengan Maskatul Millah, anak mukimin dari Ciparay. Beliau lalu mempelajari agama Islam ke berbagai syekh dan ulama besar di Masjidil Haram.

Tahun 1941, beliau pulang ke Indonesia serta rajin mengadakan ceramah. Zaman Jepang beliau diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Priangan yang pertama menjadi Ketua Masyumi daerah Priangan. Zaman revolusi, beliau bergabung dengan tentara Hisbullah dan memimpin pasukan dengan K.H. Yusuf Tauziri, malahan pernah tertangkap oleh Belanda.

Sesudah Indonesia merdeka, Anwar Musaddad ditugaskan untuk mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Yogyakarta oleh Menteri Agama. Sesudah Perguruan Tinggi itu berdiri beliau menjadi dosen bahasa Arab dan berdakwah di sana. Tahun 1960, beliau ditugaskan lagi untuk mendirikan dan mengelola IAIN di Bandung. Sampai beliau menjadi rektor IAIN Sunan Gunungjati Bandung yang pertama dalam tahun 1968. Disamping itu, beliau ditunjuk pemerintah menjadi anggota panitia menerjemahkan dan mengartikan Al-Qur?an dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda.

Sesudah pensiun, beliau mendirikan lembaga pendidikan Al-Musaddadiyah di Garut, yang awalnya hanya membuka Fakultas Syari?ah sampai membuka Sekolah Tinggi Teknologi Garut (STTG).

Beliau wafat di Garut pada tanggal 21 Juli 2000, dan dimakamkan di Komplek Pesantren Al-Musaddadiyah.
 Ke halaman sebelumnya

Best view with
Microsoft
Internet Explorer at
1024 by 768 pixels