Selasa, 23 Mei 2017
Halaman Utama Berita Agenda Kontak Kami Buku Tamu Ke Domain Utama English Version
Tujuan Wisata
Satuan Kawasan Wisata
Peta Wisata
Objek Wisata
Usaha Wisata
Hotel
Restoran
Bumi Perkemahan
Hiburan Umum & Wisata Belanja
Jasa Wisata
Aneka Dokumen
Rekapitulasi
Kunjungan Wisata
PAD Parsenibud
Seni Budaya
Seni Tradisional
Temuan Arkeologi
Bangunan Bersejarah
Cagar Budaya
Benda Pusaka
Upacara Adat
Pemukiman Tradisional
Naskah Kuno
Cerita Rakyat
Permainan Rakyat
Peristiwa Sejarah
Tokoh Sejarah
Organisasi Parsenibud
Disparbud
Organisasi Pariwisata
Organisasi Seni Budaya
Rupa - Rupa
Even
Agenda
Berita
Buku Tamu
 
Direktori
Peta Kota Garut
Peta Kecamatan
Produk Khas
Makanan Khas
Cindera Mata
 
Cagar_Budaya - Situs Kabuyutan Ciburuy
(dibaca : 18576 kali)
perbesar...
Kecamatan : Bayongbong
 
Terletak di Kampung Ciburuy, Desa Pamalang, Kec. Bayongbong. Dari kota Kecamatan kira-kira 3,5 Km menuju ke arah tenggara, sedangkan jarak dari pusat kota kurang lebih 17 Km, dapat dicapai baik oleh kendaraan roda empat dan roda dua melalui jalan desa yang sudah beraspal.

Luas Situs Kabuyutan Ciburuy bagaikan museum mini yang menyimpan benda cagar budaya. Ada 3 rumah adat di sana, yaitu Bumi Padaleman, Bumi Patamon dan Lumbung Padi (Leuit). Bumi padaleman menyimpan benda-benda berupa naskah kuno daun lontar dan nipah. Sedangkan Bumi Patamon menyimpan benda-benda yang berupa senjata tajam seperti keris, kujang, trisula dan alat kesenian yaitu Goong Renteng yang menjadi cikal bakal kesenian degungsekarang. Benda-benda peninggalan sejarah dan purbakala di situs Kabuyutan Ciburuy berasal dari peninggalan masa Megalitik dan Klasik. Upacara ritual yang dilaksanakan pada hari Rabu, minggu ke-3 bulan Muharam pada malam kamis pukul 19.30, yang disebut upacara Seba. Merupakan suatu bentuk peninggalan di jaman Prabu Siliwangi yang kemudian dilanjutkan oleh anaknya Prabu Kian Santang. Pada zaman dahulu tempat ini oleh Prabu Kian Santang digunakan sebagai arena pertarungan dengan jawara-jawara di pulau Jawa. Awal mula tempat ini dijadikan tempat pertarungan karena pada suatu hari Prabu Kian Santang menemukan sebuah keris dan beliau mendapat amanat untuk menencapkannya pada sebuah batu sehingga dari batu tersebut keluarlah air lalu beliau disuruh mengikatkan keris tersebut pada sorbannya lalu keris tersebut dihanyutkan sehingga keris itu berhenti pada suatu tempat. Di tempat keris tersebut berhenti itulah Prabu Kian Santang akan menemukan lawannya. Pada suatu hari Prabu Kian Santang sedang mengadakan pertarungan di daerah tersebut tetapi tidak adak satupun lawannya yang dapat mengalahkan Prabu Kian Santang, hingga pada suatu saat datanglah utusan Sayyidin Ali yaitu H. Mustafa untuk melawan Prabu Kian Santang. Akhirnya Prabu Kian Santang mampu dikalahkan. Setelah Prabu Kian Santang dikalahkan, H Mustafa memberikan amanat kepada beliau untuk pergi ke Tanah Suci untuk bertemu dengan Sayyidin Ali dan senjata-senjata Prabu Kian Santang ditinggalkan di Ciburuy.

Peninggalan sejarah yang terdapat di Situs Ciburuy ini antara lain keris, bende (lonceng yang terbuat dari perunggu), kujang (senjata Prabu Siliwangi), trisula, tombak, dan tulisan Jawa Kuno yang ditulis oleh Prabu Kian Santang di atas daun nipa dan daun lontar. Masyarakat sekitar secara rutin mengadakan upacara pencucian keris yang dilaksanakan setiap 1 Muharam. Di kawasan Situs Ciburuy juga terdapat larangan berupa pantangan dimana setiap hari Jumat dan hari Sabtu tidak boleh seorangpun memasuki kawasan Situs Ciburuy.
 Ke halaman sebelumnya

Best view with
Microsoft
Internet Explorer at
1024 by 768 pixels